Menu
Suara Masyarakat Indonesia

Eropa Alami Kekeringan Terparah dalam 500 Tahun Terakhir

  • Share


BRUSSELS, KOMPAS.com – Eropa mengalami kekeringan terparah dalam 500 tahun terakhir dengan dua pertiga wilayah dari benua tersebut menghadapi keadaan waspada atau peringatan.

Kondisi kekeringan terparah tersebut dilaporkan oleh European Drought Observatory (EDO) dalam laporannya pada Agustus. EDO merupakan lembaga yang diawasi oleh Komisi Eropa.

“Kekeringan parah yang memengaruhi banyak wilayah Eropa sejak awal tahun telah semakin meluas dan memburuk pada awal Agustus,” kata EDO dalam laporannya, sebagaimana dilansir Al Jazeera, Selasa (23/8/2022).

Baca juga: Kekeringan Ganggu Pasokan Listrik China, Shanghai Matikan Lampu Ikonik The Bund

EDO menambahkan, Eropa-Mediterania barat kemungkinan akan mengalami kondisi yang lebih hangat dan lebih kering dari biasanya sampai November.

Pada musim panas kali ini, sebagian besar wilayah di Eropa telah mengalami suhu panas yang tak biasa selama berpekan-pekan.

Kondisi tersebut memperburuk kekeringan, menimbulkan kebakaran hutan, memicu peringatan kesehatan, dan mendorong seruan untuk lebih banyak tindakan mengatasi perubahan iklim.

Situasi ekstrem ini memperburuk hasil panen sejumlah komoditas pada 2022. Hasil panen dari jagung turun 16 persen di bawah rata-rata lima tahun sebelumnya.

Baca juga: Sungai Danube di Eropa Mengering, Puluhan Kapal Perang Dunia II Bermunculan

Sementara itu, hasil panen kedelai dan bunga matahri masing-masing turun 15 persen dan 12 persen.

Kekeringan parah di Eropa juga membuat pembangkit listrik tenaga air (PLTA) kena imbasnya karena debit air di sungai berkurang drastis.

Selain itu, perusahaan pembangkit listrik lainnya juga terpengaruh karena kekurangan air untuk sistem pendinginnya.



Source link

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.